Skip to main content

Tenggelam

Saat seseorang mencoba membuat yang lainnya tertawa, menyamarkan air matanya sendiri dalam rintik hujan. Ketika seseorang peduli pada suatu hal melebihi peduli pada dirinya sendiri, karena tahu rasanya di acuhkan. Aku rasa, hal terbaik yang dapat terjadi dalam hidupku adalah tidak pernah merasakannya sama sekali. Menghabiskan 86.400 deposito harianku yang bahkan tak kuingat untuk apa. Setiap detiknya kita mengembara menyusuri galaksi dalam kecepatan 600km/s. bagaimana tidak kita sebagai makhluk rapuh ini selalu kelelahan. Alam semesta begitu luas, terang benderang bertabur gugusan bintang berlapis-lapis. Termasuk di dalamnya milyaran galaksi. Namun, bahkan ribuan benda benda bercahaya sekalipun, tak cukup tangguh mengarungi ruang dan waktu. Tak cukup terang untuk membunuh sang kegelapan. Karena, saat mentari pulang ke barat, dan bulan terlalu lelah menemani, kegelapan membisikan angan dan harapan yang takkan tergapai.

Aku suka sekali, berjam-jam menyusuri jalan dengan barisan pepohonan menuju rumah. Aku dan sepasang kaki kecil pemberian Yang Maha Kuasa ini, dan mungkin angin hujan yang mengajakku berlari dengannya, dan bulir-bulir air yang ikut bersamanya, dan daun-daun itu bersuka ria karena angin muson barat telah datang. Alam seakan menyambut, daun muda menampakkan diri, ulat ulat bersuka cita, burung membangun sarang, dan manusia bermalas-malasan di dalam rumah. Pikiranku melayang, melintasi langit biru dan awan yang saling memburu. Kulepaskan semuanya dalam nyanyian sendu diiringi desis-desis daun.

Aku teringat akan hal-hal yang telah terjadi hari ini. Aku terbangun sebelum matahari, karena seharusnya begitu.  Aku meninggalkan rumah sementara matahari baru berdiri di horizon. Beraktivitas layaknya orang lain. Dan pulang saat matahari terbenam. Selalu begitu, dan hanya seperti itu tak lebih. Tak ada kejadian menakjubkan seperti di film-film dimana seseorang seperti aku bisa jadi pahlawan lalu aku akan menyelamatkan orang, atau mungkin alien yang datang untuk menculik manusia untuk eksperimen, atau setidak-tidaknya orang yang menanyakan bagaimana keadaanku. Dan saat yang paling kunantikan sepanjang hari ialah saat aku dapat benar-benar sendiri tanpa sesuatu pun yang menggangguku. Menatap awan berkejaran dan mendengar alam bersenda gurau.

Sesungguhnya, aku benci sekali rutinitas. Melakukan hal yang sama, berulang-ulang, mengharapkan hasil yang berbeda. Melakukan hal yang sama, entah benar atau salah, menjadikannya kebiasaan, membuat orang lain mengikutinya, dan  memanipulasi kebenaran. Seperti terperangkap dalam labirin yang berputar-putar. Setiap detik dari rutinitas ini, tak pernah lepas bayanganku dari sebuah taman yang menghampar luas, lalu aku dapat berlari dengan bebas, keluar dari rutinitas.

Aku benar-benar seorang pemimpi.Ada begitu banyak pikiran yang tak terungkap, menunggu orang lain mengetuk pintuku dan bertanya. Tapi, kenyataannya aku hanya terus tenggelam dalam pikiranku sendiri, dalam pertanyaan tiada akhir, dan imajinasi liar yang makin memberontak. Menghabiskan waktu di dalam ruang, dengan lantai yang berserakan syair, hening yang mengalun, dan kepala yang ingin meledak. Akan ada waktu dimana ini sangat menyenangkan tapi kadang juga menyedihkan, atau bahkan keduanya disaat yang bersamaan.

Dulu, aku senang menonton berbagai macam film. Menyaksikan kehidupan yang unik dan tak biasa, dimana banyak pelarian dan keajaiban. Dimana pada saat saat paling terpuruk, ketika cahaya harapan nyaris padam, seseorang akan tiba tiba datang menyelamatkanmu, entah darimana rimbanya. Seperti saat mereka tenggelam, lalu di saat saat terakhir seseorang akan terjun menyelamatkan, atau saat mereka tergelincir, seorang asing akan datang menangkap mereka, atau saat mereka menangis sendirian, seseorang akan datang menemani mereka. Membuatku awalnya berpikir bahwa, kita tidak akan melihat pelangi sebelum hujan turun. Hanya saja, kenyataannya pelangi tak muncul semudah itu. Terkadang, rintik hujan terlalu malas membiaskan cahaya mentari. Terkadang, matahari tak mau menunggu hujan. Bahkan, setelah hujan deras dan badai sekalipun, pelangi masih terlalu angkuh untuk menunjukan parasnya. Bahwa pahlawan, tidak muncul serta merta jatuh dari langit. Tidak pula tiba tiba muncul dihadapanmu saat kau membutuhkannya. Bahwa sosok seorang pahlawan, tak lain imajinasi para penghayal dan teriakan minta tolongnya yang dilantunkan dengan indah. Dalam balutan warna cerah, dengan lagu lagu cinta para pemimpi, dan deretan kalimat manis nan menghanyutkan. Seonggok mimpi yang tak terucap. Dan hasil dari bisikkan kegelapan yang mengembara di malam hari. Maka dari itu, berhati-hatilah saat malam menyerbu, kegelapan akan merasukimu mimpi mimpi yang dapat membuatmu tak tidur semalaman.

Aku menyesali setiap cerita dongeng yang kudengar dalam hidupku. Betapa hal itu telah mencuci otakku, memasukkan kebohongan-kebohongan tentang keajaiban. Tentang mimpi-mimpi yang jadi nyata walau sesungguhnya tidak. Tentang peri yang bisa terbang, pangeran tampan, dan putri yang anggun. Mengatakan kebohongan seperti "Semua akan baik-baik saja". Cih. Siapa kalian sehingga bisa memastikan itu. Bahkan, energi yang terkuat akan hilang dan cahaya yang paling terang dapat padam. Tolong jangan katakan hal yang tidak dapat kau pastikan. Tolong jangan janjikan aku hal-hal yang tidak dapat terjadi. Tolong jangan buat aku memimpikan hal yang lebih baik. Karena aku telah benar-benar berusaha untuk bertahan. Aku baru belajar menerima kenyataan. Melupakan duka yang pernah merundungku. Karena, hal yang tak kalian alami sendiri takkan pernah bisa kalian pahami meski sebaik apapun aku menjelaskannya. Jadi, kumohon jangan katakan padaku untuk jangan menyerah. Percayalah, sebelumnya aku adalah seorang pejuang tangguh. Aku hanya, terlalu kecewa, terlalu lelah, dan telah berakhir putus asa.

Sampai detik ini, aku masih belum beranjak dari tempatku. Saat-saat penuh kedamaian mungkin tak akan terjadi lagi. Aku akan berusaha menikmati setiap hembusan angin lembut yang membelai wajahku. Sepi yang memanjakan jiwaku. Bahkan, rumput-rumput menari seirama awan. Aku tak mau pulang. Atau lebih tepatnya, aku tak akan kembali lagi. Karena, jika rumah adalah tempat dimana kita merasa aman. Maka, inilah rumahku. Disinilah hatiku berada, aku ingin ada disini.

Bulan sempat berbincang dengan matahari sebelum ia pulang ke balik horizon. Sayang, aku tak dapat mendengarnya. Mungkin, bulan mulai khawatir dengan bumi. Tentang manusia-manusia yang egois, sumber daya alam yang mulai habis, dan suhu bumi yang meninggi. Mungkin, bumi sedang demam. Tapi, kelihatannya matahari sudah terlalu putus asa dengan tingkah laku manusia. Atau mereka sedang merencanakan sesuatu untuk mengejutkan makhluk di bumi. Bulan selalu ramah dan tidak pernah putus asa. Cahayanya sendiri hanya pantulan milik matahari yang bahkan tak sanggup menerangi separuh langit. Jika kau paham maksudku, aku merasa punya persamaan dengan bulan.

Ah, ini dia. Kegelapan menaungi separuh bagian langit. Kulihat matahari sempat melambai, maka kulambaikan pula tanganku. Untuk matahari, yang terakhir kalinya. Aku menangkap sinar-sinar terakhirnya dan memejamkan mataku untuk menyimpannya. Jadi ketika aku menutup mata, aku dapat melihat sinar itu. Lalu, bulan menyapa. Berjalan dengan anggun ke singgasananya. Rumput yang tadi menari kini merunduk menghormatinya. Angin berhembus lagi membangunkan rerumputan. Aku rasa sudah tiba waktunya.



Tenggelam



Detik detikku mulai berhamburan

Menit menitku telah hilang arah

Aku terjebak

Dalam ombang-ambing sang ombak

Mereka tak melihatku

Mereka tak akan melihatku

Sedang aku bukan siapa-siapa

Mereka akan membiarkanku tenggelam

Karena semua akan baik-baik saja

Mungkin memang seharusnya begini

Aku tercipta dari kegagalan

Tak usah repot mencariku

Karena aku tak akan pernah kembali lagi



Muson barat, tolong sampaikan salamku pada semuanya saat mereka terbangun. Bukan maksudku mengakhirinya, aku malah ingin mengulanginya dari awal, dengan lebih sedikit penyesalan. Sampai jumpa lagi, semuanya.

Comments