Skip to main content

Untuk yang karetnya dua

Dia adalah jiwa yang hidup dibalik sepasang sorot mata yang menyala bak mercusuar di cakrawala. Dan selengkung senyum yang mendekap hangat dalam dingin yang tak tersentuh tangan. Yang tak pernah hilang meski pergi jauh, meski tertinggal, ditinggalkan. Serta tak lupa tersisip dalam kantung-kantung doa di setiap malam.
Dia itu bukan hanya seorang. Setiap individu, makhluk hidup, yang berdetak, atau pernah, yang selalu hadir dengan atau tanpa raga, adalah dia. Siapa saja yang dapat berbicara tanpa kata, lintas bahasa, juga perasaan, dapat menjadi dia. Pribadi dengan anugerah yang dapat membedakan rintik air mata di antara tetesan hujan. Tidak menutup kemungkinan, dia adalah kita.
Individu yang istimewa hanya seperti batu apung di antara batupasir. Terkadang, dahan yang tak patah atau kaca yang tak baret hanya berarti sempurna, belum istimewa. Lagipula, semua gading yang retak telah melindungi sekawanan gajah. Namun jika beruntung, kita dapat bertemu dengan dia yang dapat melihat bahwa setiap butir batupasir punya kisahnya sendiri.

Comments

Post a Comment