Skip to main content
Keran air yang bocor tidak mau berdamai dengan sunyi yang menghanyutkan kota dan kata kala itu. Suara tetesan air yang menghujam lantai berpantulan di dinding kamar mandi dan keluar melalui celah pintu, menyusuri kosongnya jalan raya di bawah kerlingan beribu bintang yang berteman dengan redup lampu di sisi jalan, lalu bias di antara tiang listrik karatan dan dinginnya malam di bulan Desember. Keran air itu berlomba dengan duka yang memeras air di pelupuk matanya, tak peduli betapa pun ditahan supaya segera mengering dengan sendirinya. Yang meski diusapnya berulang-ulang akan hadir lagi dan lagi seperti hujan membasahi kaca jendela. Dunia dan seisinya tak peduli. Segala harap juga pinta tercekat dalam tenggorokannya. Benda di sekitarnya seolah menguap ke udara tak menyisakan apa-apa. Yang tinggal hanya dirinya sendiri, menunggui jam berdetik, menanti malaikat menjemput esok pagi.

Comments