Pertemuan pertama di musim salju. Tak pantas di sebut bertemu. Kurasa hanya aku yang terus memperhatikanmu. Dengan sweater lucumu yang berwarna biru. Dapat kudengar earphonemu bersenandung. Wolfgang Amadeus. Claude Debussy. Dan beberapa yang kutahu seperti Clair de Lune. Aku tersenyum. Dan terus mengikutimu menyusuri trotoar beku. Sayang sekali aku tak sanggup berkata apapun. :)
29 derajat celcius. Nemophilia harmony. Cherry blossom. Ladang ladang putih mulai berwarna. Hewan hewan bersuka cita menyambut matahari. dan semakin cerah denganmu duduk di ujung bangku taman. Aku telah berkata banyak hal padamu, dalam benakku. Entah kenapa, semua kalimat kalimat yang sudah ku siapkan berbulan bulan tiba tiba hilang dari otakku. aku menikmati memandangimu lama-lama dan menyesali setiap detiknya karna aku tak sanggup bicara padamu. What a guilty pleasure.
Undangan pesta telah disebar. Pantai ramai dengan musik sepanjang hari. Mengalunkan romansa anak muda di tepi. Tak ada yang lebih menyenangkan, dari melihatmu tertawa berjingkrak bersama hentakan musik. Jantungku beradu kecepatan dengan tempo. Saat kau melihat ke arahku, lalu tersenyum. Hanya 3 meter. Tanganku mati rasa. Dapat ku lirik secarik kertas yang ku genggam bergetar getar. ah sia-sia kutulis semuanya. Aku tak dapat bicara. Jangankan ingin berkedip, bernafas pun lupa caranya. kau melalui keramaian, dan tiba tiba sudah berada di depanku. Saat itu juga, otakku membeku, aku bahkan lupa namaku. Seakan kau tau betapa sulitnya aku bernafas. Kau ambil secarik kertas itu, tersenyum dan menarikku keluar dari keramaian. Seakan kau tau perasaanku. Seakan kau mengerti aku. Seakan kita sudah saling mengenal satu sama lain. Seakan aku pernah bertemu denganmu. Di dunia yang berbeda.
29 derajat celcius. Nemophilia harmony. Cherry blossom. Ladang ladang putih mulai berwarna. Hewan hewan bersuka cita menyambut matahari. dan semakin cerah denganmu duduk di ujung bangku taman. Aku telah berkata banyak hal padamu, dalam benakku. Entah kenapa, semua kalimat kalimat yang sudah ku siapkan berbulan bulan tiba tiba hilang dari otakku. aku menikmati memandangimu lama-lama dan menyesali setiap detiknya karna aku tak sanggup bicara padamu. What a guilty pleasure.
Undangan pesta telah disebar. Pantai ramai dengan musik sepanjang hari. Mengalunkan romansa anak muda di tepi. Tak ada yang lebih menyenangkan, dari melihatmu tertawa berjingkrak bersama hentakan musik. Jantungku beradu kecepatan dengan tempo. Saat kau melihat ke arahku, lalu tersenyum. Hanya 3 meter. Tanganku mati rasa. Dapat ku lirik secarik kertas yang ku genggam bergetar getar. ah sia-sia kutulis semuanya. Aku tak dapat bicara. Jangankan ingin berkedip, bernafas pun lupa caranya. kau melalui keramaian, dan tiba tiba sudah berada di depanku. Saat itu juga, otakku membeku, aku bahkan lupa namaku. Seakan kau tau betapa sulitnya aku bernafas. Kau ambil secarik kertas itu, tersenyum dan menarikku keluar dari keramaian. Seakan kau tau perasaanku. Seakan kau mengerti aku. Seakan kita sudah saling mengenal satu sama lain. Seakan aku pernah bertemu denganmu. Di dunia yang berbeda.
Comments
Post a Comment