Ayahku pernah berkata dunia ini penuh dengan pertanyaan yang sulit atau bahkan mustahil untuk dijawab dan misteri yang terletak pada jawabannya adalah yang membuat hidup ini lebih menarik. Baginya, beberapa pertanyaan lebih baik dibiarkan menjadi teka-teki. Aku hanya seorang gadis kecil setinggi kurang lebih satu meter sepuluh senti saat itu. Frustasi paling berat yang kualami sekedar kehilangan boneka kesayangan dan tidur tepat waktu di malam hari. Menurutku, semua pertanyaan harus ada jawabannya seperti semua kunci yang dapat membuka setidaknya satu gembok. Dan akan sangat menyebalkan bagi seorang gadis kecil ketika tidak ada jawaban bagi pertanyaannya. Kupikir orang dewasa punya jawaban atas segalanya.
Sore itu lengang. Wanita itu selalu memandangi lapangan setiap kali ia lewat. Kali ini, ia punya kesempatan untuk berhenti dan duduk di padang rumput sambil menikmati sore disana. Hanya ada dua atau tiga orang yang sedang berlari dalam track karena waktu itu sudah menjelang natal dan tahun baru. Tidak banyak orang yang masih berada di sekitar kampus dan sebagian besarnya telah pulang serta berjanji untuk tidak mendekati areal kampus selama liburan. Sore itu cukup indah.
Ia mengingat-ngingat kejadian yang telah berlalu setahun ke belakang. Lucunya, ia merasa itu semua baru terjadi kemarin. Setiap detil dari momen-momen tersebut masih amat lekat di kepalanya yang bahkan tidak dapat mengingat menu makan siangnya barusan. Dia baru saja menganalogikan dirinya seperti sebuah bangunan. Sebuah bangunan tua mirip Parthenon. Kemudian, ia menyusun kejadian-kejadian setahun itu seperti pilar-pilar kokoh, fondasi, serta atap dari bangunan. Dengan hati-hati ia memilih mateialnya. Ia berkaca dengan keadaannya saat ini dan memikirkan komponen-komponen apa saja yang dapat membentuknya seperti sekarang. Bangunan itu belum selesai, namun ia cukup optimis bahwa hasilnya akan indah. Akan tetapi, ada satu pilar yang terlihat begitu rapuh dan salah. Satu pilar yang jika dibiarkan dapat merusak keindahan keseluruhan bangunan. Menurutnya, pilar ini perlu dihancurkan sebelum pilar tersebut mengakibatkan kekacauan yang besar pada bangunan itu.
Seperti itulah rupanya. Dia merasa harus merobohkan pilar itu apapun yang terjadi. Ia telah memikirkannya matang-matang. Meskipun ada banyak sekali hal yang membingungkan baginya, dia tahu kapan harus benar-benar yakin. Karena penyesalan bukanlah sesuatu yang bisa ia tanggung seumur hidup. Ia berdiri dengan tegak dan melangkah keluar lapangan tanpa menengok ke belakang. Sesuatu telah usai, atau seperti itu yang ia yakini. Tanpa keraguan, dia membuka pintu lainnya dalam kehidupan. Tanpa takut dan tanpa penyesalan.
Sore itu lengang. Wanita itu selalu memandangi lapangan setiap kali ia lewat. Kali ini, ia punya kesempatan untuk berhenti dan duduk di padang rumput sambil menikmati sore disana. Hanya ada dua atau tiga orang yang sedang berlari dalam track karena waktu itu sudah menjelang natal dan tahun baru. Tidak banyak orang yang masih berada di sekitar kampus dan sebagian besarnya telah pulang serta berjanji untuk tidak mendekati areal kampus selama liburan. Sore itu cukup indah.
Ia mengingat-ngingat kejadian yang telah berlalu setahun ke belakang. Lucunya, ia merasa itu semua baru terjadi kemarin. Setiap detil dari momen-momen tersebut masih amat lekat di kepalanya yang bahkan tidak dapat mengingat menu makan siangnya barusan. Dia baru saja menganalogikan dirinya seperti sebuah bangunan. Sebuah bangunan tua mirip Parthenon. Kemudian, ia menyusun kejadian-kejadian setahun itu seperti pilar-pilar kokoh, fondasi, serta atap dari bangunan. Dengan hati-hati ia memilih mateialnya. Ia berkaca dengan keadaannya saat ini dan memikirkan komponen-komponen apa saja yang dapat membentuknya seperti sekarang. Bangunan itu belum selesai, namun ia cukup optimis bahwa hasilnya akan indah. Akan tetapi, ada satu pilar yang terlihat begitu rapuh dan salah. Satu pilar yang jika dibiarkan dapat merusak keindahan keseluruhan bangunan. Menurutnya, pilar ini perlu dihancurkan sebelum pilar tersebut mengakibatkan kekacauan yang besar pada bangunan itu.
Seperti itulah rupanya. Dia merasa harus merobohkan pilar itu apapun yang terjadi. Ia telah memikirkannya matang-matang. Meskipun ada banyak sekali hal yang membingungkan baginya, dia tahu kapan harus benar-benar yakin. Karena penyesalan bukanlah sesuatu yang bisa ia tanggung seumur hidup. Ia berdiri dengan tegak dan melangkah keluar lapangan tanpa menengok ke belakang. Sesuatu telah usai, atau seperti itu yang ia yakini. Tanpa keraguan, dia membuka pintu lainnya dalam kehidupan. Tanpa takut dan tanpa penyesalan.
Comments
Post a Comment